YOU ARE HERE Home - Pendidikan - Manajeman dan Yayasan Harus Bertanggungjawab

Manajeman dan Yayasan Harus Bertanggungjawab

Terkait aksi unjukrasa mahasiswa menuntut Indrayani mundur
Minta untuk dilakukan audit terhadap pengelolaan keuangan di kampus

RENGAT - Bupati Inhu Yopi Arianto meradang. Ia menilai mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Indragiri hanya menjadi korban bobroknya manajeman pengelolaan kampus serta lemahnya pengawasan dari Yayasan Pendidikan Indragiri (YPI). Karena itu, Ketua STIE Indragiri dan YPI harus sama-sama bertanggungjawab atas kondisi yang terjadi.

Penegasan itu disampaikan Bupati kepada Tribun, Senin (2/1) menyikapi aksi unjuk rasa mahasiswa dan alumni yang digelar, Sabtu (31/12) kemarin di halaman kampus untuk menuntut Ketua STIE Indragiri Indrayani mundur dari jabatannya.

“Saya prihatin dengan situasi yang terjadi di kampus STIE indragiri. Saya menghimbau kepada mahasiswa dan dosen agar tetap melaksanakan proses perkuliahan meskipun ada tuntutan dan desakan agar Ketua mundur, sehingga tidak ada yang dirugikan,” ungkap Yopi.

Ditegaskan Yopi, selaku Bupati Inhu, ia sudah sering mengingatkan agar pihak manajeman dapat bersikap transparan dalam pengelolaan keuangan. Terakhir, hal itu diungkapkannya saat menghadiri wisuda mahasiswa STIE Indragiri beberapa waktu lalu.

“Kampus itu merupakan wadah intelektual dan uang yang di pungut berasal dari mahasiswa sehingga harus dapat dipertanggungjawabkan secara profesional dan transparan. Apalagi di STIE banyak orang-orang pintar yang mengerti manajeman, sehingga tidak akan sulit untuk melaksanakannya,” sindir Bupati yang pernah ditasbihkan oleh MURI sebagai yang termuda se Indonesia.

Tidak hanya pihak manajeman, Yopi menilai bahwa YPI selaku pengawas harus ikut bertanggungjawab secara penuh atas persoalan yang terjadi. Bagaimanapun YPI menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Kampus STIE Indragiri. Sehingga YPI tidak dapat cuci tangan dan seolah-olah menjadi pihak yang paling benar.

“Apa selama ini YPI sudah melakukan fungsinya dengan baik. Kalau sudah, tentu saja kondisi seperti ini tidak akan terjadi karena seharusnya YPI dapat mengawasi dan mengingatkan pihak manajeman jika memang terjadi penyimpangan, sehingga persoalan seperti ini tidak harus terjadi,” tegasnya.

Yopi juga meminta pihak-pihak yang berkepentingan di STIE Indragiri tidak membawa-bawa persoalan  yang  terjadi keluar dan membandingkan dengan kampus lain di Inhu, apalagi menyangkut bantuan dari Pemkab Inhu. “Memang dibanding kampus lain bantuan Pemkab untuk STIE Indragiri tergolong kecil. Tetapi jika manajemannya seperti ini, besar pun bantuan tetap saja tidak optimal,” ungkapnya.

Karena itu, untuk mendudukkan persoalan yang terjadi, Bupati akan memanggil Ketua STIE Indragiri dan YPI serta mahasiswa untuk mempertanyakan langsung kondisi yang sesungguhnya terjadi. Selain itu, Yopi akan meminta agar segera dilakukan audit terhadap penggunaan dana di kampus STIE Indragiri sehingga persoalan menjadi jelas.

“Kalau perlu saya yang akan pimpin langsung audit di STIE Indragiri. Dana audit ini penting dilaksanakan demi transparansi sekaligus menjawab berbagai pertanyaan mahasiswa yang telah disampaikan dalam aksinya,” ungkapnya.

Yopi juga meminta persoalan yang terjadi di STIE dapat menjadi pelajaran bagi kampus lain yang ada di Inhu. “Saat ini zamannya sudah transparansi, jadi percuma menutup-nutupi, apalagi menyangkut kepentingan orang banyak,” ucapnya.

Seperti diketahui, akhir pekan kemarin mahasiswa STIE Indragiri yang tergabung dalam komunitas mahasiswa dan alumni menggelar aksi unjuk rasa menuntut Ketua STIE Indragiri, DR Indrayani SE MM mundur dari jabatannya karena dinilai jarang berada di tempat dan tidak transparan dalam pengelolaan keuangan.

Dalam aksinya mahasiswa membentangkan spanduk panjang di sepanjang pagar kampus sebagai bentuk penyegelan terhadap aktivitas kampus. Mahasiswa juga membentangkan berbagai poster yang berisi kritikan atas berbagai kebijakan manajeman STIE Indragiri yang dinilai sangat memberatkan mahasiswa. Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga menggelar aksi treatikal.

Sementara itu, berdasarkan pantauan Tribun, Senin (2/1), spanduk dan poster yang sebelumnya dibentangkan mahasiswa di sepanjang pagar sudah tidak terlihat lagi. Bahkan menurut beberapa mahasiswa, proses perkuliahan sudah kembali dilakukan seperti sebelumnya. (IM)